Cinta yang Tidak Diingkari dan Tidak Pula Tercela

25 Mar 2023  | 341x | Ditulis oleh : Team
Cinta yang Tidak Diingkari dan Tidak Pula Tercela

Jika engkau ingin mengetahui kadar cintamu, juga kadar cinta selainmu kepada Allah, maka lihatlah kadar kecintaanmu terhadap al-quran dalam hatimu. Kenikmatanmu ketika mendengar firman-Nya seharusnya lebih besar daripada kelezatan yang dirasakan orang-orang yang mencintai musik dan nyanyian.

Termasuk perkara yang umum diketahui bahwa siapa yang mencintai seseorang pasti mencintai ucapan dan perkataannya pula, sebagaimana dikatakan oleh penyair :

Jika kau menyatakan cinta kepada-ku

Lalu mengapa kau jauhi Kitab-Ku?

Tidakkah kau perhatikan apa yang ada di dalamnya

Yang merupakan kelezatan seruan-Ku

Utsman bin’Affan radhiyallahu’anhu berkata, “Sekiranya hati kita bersih, tentu ia tidak akan pernah merasa kenyang dengan firman Allah.”

Bagaimana mungkin seorang pecinta akan merasa kenyang dari ucapan objek yang dicintainya, padahal itulah puncak tujuannya.

Tatkala para Sahabat berkumpul dan di tengah-tengah mereka terdapat Abu Musa, mereka segera berkata. “Wahai Abu Musa, ingatkanlah kami kepada Rabb kami.” Maka Abu Musa membacakan al-quran, sedangkan mereka menyimaknya baik-baik. (Hal senada diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaida dalam Fadhaa-ilul Qur-aan(hlm. 79)

Apabila kamu melihat seseorang yang lebih senang mendengarkan bait-bait syair daripada ayat-ayat Allah, serta lebih suka mendengar lagu-lagu daripada al-quran maka kondisinya sebagaimana dikatakan :

Dibacakan kepadamu al-quran

Namun hatimu keras seperti batu

Tapi tatkala satu bait syair disenandungkan

Engkaupun goyah seperti orang yang mabuk kepayang

Kondisi demikian merupakan dalil kuat yang menunjukkan bahwa hatinya kosong dari kecintaan terhadap Allah dan firman-Nya. Selain itu, ha tersebut membuktikan ketergantungan orang itu terhadap nyanyian syaithan. Meskipun demikian, orang yang tertipu mengira dia memiliki ilmu.

Di dalam kecintaan kepada Allah, firma-Nya dan Rasul-Nya terdapat perkara-perkara yang jauh berlipat ganda kebaikannya dibandingkan orang yang mencari faidah dan manfaat dari kasmaran. Tidak ada cinta yang bermanfaat daripada cinta kepada-Nya. Justru mencintai selain-Nya itu termasuk kebathilan, jika hal itu membantu menambah kecintaan dan kerinduan kepada-Nya.

Ketik ulang dari buku Ad-Daa’wa’Ad-Dawaa Macam-macam Penyakit Hati yng Membahayakan dan Resep Pengobatannya, Ibnu Qayyim al-jauziyyah, cetakan ke tiga, pustaka Imam Asy-Syafi’i.

#Tag
Artikel Terkait
 
Mungkin Kamu Juga Suka
RajaKomen
Scroll Top